Bisnis

Bukalapak Jadi Perusahaan Teknologi Pertama Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia

Direktur Utama Bukalapak, Rachmat Kaimuddin

ACN Media – Bukalapak (PT Bukalapak.com Tbk) secara resmi mengumumkan rencana penawaran umum perdana sahamnya atau initial public offering (IPO). Hal ini menjadikan Bukalapak┬ásebagai perusahaan teknologi pertama yang bakal melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Baca juga: Perang SuperAap Makin Intensif, Airasia Akuisi Gojek Thailand

Direktur Utama Bukalapak, Rachmat Kaimuddin, menjelaskan langkah perusahaan terjun ke pasar saham ini merupakan strategi untuk memastikan keberlanjutan bisnis di masa mendatang.

Dengan menjadi perusahaan terbuka, dia menginginkan saham Bukalapak bisa dimiliki oleh masyarakat secara luas. Termasuk juga para mitra UMKM yang selama ini menjadi rekan bisnis, ia imbau untuk bisa ambil bagian sebagai pemilik saham.
Di balik langkah ini, Rachmat juga menekankan bahwa Bukalapak ingin startup lepas dari stigma negatif. Terutama dari anggapan bahwa perusahaan rintisan mesti bakar uang agar bisa meroket.

Rachmat menjelaskan, perusahaan tidak lagi ingin masyarakat mengenal Bukalapak sebagai sebuah aplikasi. Langkah IPO disinyalir dapat membuat Bukalapak lebih dikenal sebagai sebuah perusahaan teknologi besar, ketimbang hanya sebuah aplikasi.

Baca Juga :  BEI Siap Sambut Unicorn Indonesia Yang Akan IPO di Tahun 2021

“Bukalapak diketahui sebagai aplikasi, e-commerce dan bukan sebagai sebuah perusahaan maka hari ini saya mohon izin untuk mengenalkan PT Bukalapak.com Tbk,” ucap Rachmat.

Di balik langkah ini, Rachmat juga menekankan bahwa Bukalapak ingin startup lepas dari stigma negatif. Terutama dari anggapan bahwa perusahaan rintisan mesti bakar uang agar bisa meroket.
Soal bakar uang ini, perusahaan-perusahaan berbasis teknologi yang baru lahir kerap diidentikkan dengan strategi bakar uang. Sebut saja mulai dari menebar berbagai promosi, diskon, sampai cashback buat menarik perhatian.
Rachmat menyatakan, pendapatan dan transaksi Bukalapak terus tumbuh dari tahun ke tahun. Di samping itu, menurutnya, perusahaan juga berhasil memperbaiki posisi ebitda di tahun 2020 dan berharap mampu melanjutkan tren tersebut.

Selain itu, Rachmat juga menyatakan keinginannya untuk lebih banyak mendigitalisasi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lewat IPO tersebut.

Baca Juga :  IPO Di Amerika, Grab Holding Berencana Merger Dengan SPAC

“Manfaat IPO ini ke end user adalah membuat mereka, UMKM, warung mendapatkan akses jual beli, nggak peduli di desa atau kota, online atau offline semua punya kesempatan yang sama. Maka kita akan membangun jembatannya di sisi offline karena online-nya adalah marketplace Bukalapak yang layanannya lengkap,” kata Rachmat.

Adapun, bentuk jembatan offline yang dimaksud Rachmat adalah dengan digitalisasi warung. Masyarakat yang tadinya takut berbelanja online dapat difasilitasi dengan warung digital tersebut.

Oleh karena itu, dana yang diperoleh dari IPO bakal digunakan untuk mempercepat kemajuan operasional bisnis Bukalapak, termasuk digitalisasi warung tersebut.

Masa penawaran awal atau bookbuilding dibuka mulai tanggal 9 Juli hingga 19 Juli mendatang. Kemudian registrasi final ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan dilakukan pada 22 Juli 2021.

Baca Juga :  Semakin Dekat IPO Bukalapak Akan Menjadi Yang Terbesar Di Indonesia Dalam 10 Tahun Terakhir

Baca juga: Populix Luncurkan Daftar Top 30 Startup Teknologi Indonesia

Penawaran umum dibuka mulai tanggal 28 hingga 30 Juli 2021. Sementara masa tahan dibuka sampai 3 Agustus 2021. Adapun, tanggal distribusi dan pembayaran kepada emiten serta refund dilakukan pada tanggal 5 Agustus 2021. Kemudian terakhir pencatatan perdana di BEI akan dilakukan pada 6 Agustus 2021.

About the author

Eric Kaeng

Founder and CEO of @asemcreativenetwork dan acnmedia.id, explore the latest tech, startups and business in South East Asia.

Add Comment

Click here to post a comment

Enable Notifications    OK No thanks