Startup

OVO Menjadi Startup Unicorn Ke-5 Indonesia

ACN Media, Jakarta – Pertanyaan mengenai siapa startup ke-5 Indonesia kini terjawab sudah. Startup unicorn ke-5 Indonesia adalah OVO.

Finance Asia minggu lalu, menurut sumber yang dikutipnya, menyebutkan valuasi OVO saat pendanaan putaran terakhir mencapai $2,9 miliar (atau lebih dari 40 triliun Rupiah)–angka yang bahkan mungkin sudah usang hari ini.

Kutipan tersebut menyatakan OVO menyandang status unicorn ini sejak 14 Maret 2019. Pertumbuhan valuasi OVO terbilang cukup cepat bahkan melampaui valuasi Traveloka dan Bukalapak yang sudah lebih dahulu menyandang status unicorn.

Awal tahun ini, mantan Direktur OVO Johnny Widodo (kini menjadi CEO BeliMobilGue) dalam wawancara dengan CBNC Indonesia sudah menyebut platform pembayaran digital itu sebagai salah satu yang bervaluasi lebih dari $1 miliar atau sering kita kenal sebagai unicorn. Narasi tersebut tampaknya diredam sehingga Indonesia saat itu “secara resmi” masih memiliki empat unicorn, yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

Baca Juga :  Startup Edutech Ruangguru Mengumumkan Mendapat Pendanaan Seri C Sebesar USD 150 Juta

Sebagai perusahaan yang memimpin industri pembayaran digital bersama GoPay, OVO jelas memproses perputaran dana yang sangat besar yang mencapai triliunan Rupiah per tahunnya. Dipilihnya OVO sebagai pilihan pembayaran primer di Tokopedia (menggantikan TokoCash) mendorong peningkatan penggunaan instrumen ini secara rata-rata untuk setiap pengguna. Selain itu, OVO juga bekerja sama dengan Grab, startup ride-hailing. OVO menjadi dompet digital satu-satunya yang bisa digunakan untuk pembayaran transaksi dalam platform Grab di Indonesia.

Akhir pekan lalu sempat diberitakan ada potensi menyandingkan OVO dan Dana untuk mendukung usaha mendominasi segmen pembayaran digital dalam kompetisinya menghadapi Gojek di Indonesia.

Pada awal 2019, Ketua Umum Indonesian E-commerce Association (idEA) Ignatius Untung telah memprediksi bahwa unicorn kelima Indonesia berpotensi berasal dari fintech.

Baca Juga :  Grab Mengumumkan GrabWhells Dapatkan Investasi Sebesar Rp 411 Miliar

Pasalnya, harus ada tiga syarat yang dipenuhi. Pertama, startup tersebut harus memiliki transaksi yang besar dengan jumlah putaran uang yang tak kalah besar. Kedua, frekuensi transaksi pun harus besar. Ketiga, luasnya layanan konsumen.

Dia memaparkan layanan dompet digital saat ini sedang ‘naik daun’. Saat ini, Untung melihat dua dompet digital yang sudah besar adalah Ovo dan Gopay.

Sejarah OVO

OVO merupakan aplikasi dompet digital (e-wallet) yang dikelola oleh PT Visionet Internasional dan merupakan salah satu perusahaan milik Lippo Group. Pada awalnya OVO merupakan aplikasi loyalitas yang mengelola point hasil berbelanja di pusat perbelanjaan milik Lippo Group.

OVO kemudian berkembang menjadi dompet digital dan mendapatkan lisensi dari Bank Indonesia pada. 2017 silam. Strategi untuk membesarkan OVO adalah dengan menjadikan OVO sebagai alat pembayaran resmi non-tunai di semua pusat perbelanjaan milik Lippo terutama di sektor pembayaran parkir.

Baca Juga :  Otoklix Startup Layanan Otomotif Meraih Pendanaan US$ 2 Juta

Saat ini Lippo Grup merupakan pemegang saham utama OVO. Pada Mei tahun lalu, manajemen OVO mengumumkan suntikan modal sebesar US$120 juta dari Tokyo Century Corporation. CB Insights melaporkan investor lain OVO adalah Grab dan Tokopedia.

Berikut daftar startup unicorn Indonesia beserta dengan valuasinya:

  • Gojek dengan valuasi US$10 miliar (Rp 140 triliun)
  • Tokopedia dengan valuasi US$ 7miliar (Rp 98 triliun)
  • OVO dengan valuasi US$2,9 miliar (Rp 40,6 triliun)
  • Traveloka dengan valuasi US$ 2 miliar (Rp 28 triliun)
  • Bukalapak dengan valuasi US$ 1 miliar (Rp 14 miliar).

About the author

acnmedia

Media Online, Informasi Seputar Startup & Teknologi, Bisnis, Entrepreneur & Gaming

Add Comment

Click here to post a comment

Enable Notifications    OK No thanks